Wednesday, September 16, 2020

Cerpen Kisah Nyata Penampakan Nenek Penghuni Gunung Gede Part 2


Saat gondrong mengeluhkan tas carier nya yang begitu berat dan langsung di sambut suara anak ayam "....ciat..ciak..ciat...

Langsung dari jauh ada sepasang mata berwarna merah dia atas track yang mulai menanjak..

Saya pikir hanya saya yang melihat, ternyata Evi Keling dan gondrong pun melihat nya,

Sontak kami terdiam saat itu..."udah jalan terus mungkin itu Bagas (sebutan babi ketika di hutan)..ujar Keling...

Saya dan Evi mulai merasa gelisah saat itu.

saat beristirahat, kami melihat lampu lampu pendaki yang bertemu saat di pos 1 leugok leunca sore tadi..dan benar saja itu rombongan dari Garut dan tambun..

Saya sempat bertanya ke mereka.."bang yang dari Tangerang ga nanjak...

"..engga teh mereka buka tenda di pos 3 karna ada pendaki cewek yang udah gak kuat ngelanjutin perjalanan...

Kami pun berjalan perlahan,,banyak istirahat karena track nya yang sangat mengocok dengkul...

Singkat cerita kami sampai lah d warung pos bayangan..kami sempat makan gorengan semangka di warung itu..

Keling bernyanyi-nyanyi lagu India dan dia bergoyang-goyang di pohon kecil yang ada di tengah track sambil berkata bahwa dirinya mirip Kajol😂😂😂

Kami tak henti-henti nya tertawa melihat tingkah nya itu...

Gondrong yang saat itu istirahat di tanah sedikit lebih atas dari warung,dan saya menghampiri nya menawari dia apa mau kopi atau rokok...

Saat saya duduk di dekatnya tiba-tiba,

ada hewan kecil seperti musang tapi aneh nya ini berwarna putih loncat di hadapan kami entah dari mana datangnya..

Di situ saya langsung menjerit kaget..."astagfirullah apaan itu kang...

Dengan tenang dia menjawab musang itu musang sambil mengedip ngedip matanya..

Bapak yang menjaga warung pun sampai ke luar melihat kami....

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Lawang saketeng..

Lagi dan lagi aku dan Evi banyak berhenti padahal jalan baru beberapa langkah..

Saya lihat Keling nampak kesal mungkin karena kami lama jalan nya... waktu sudah menunjukkan pukul 22.04 .... perjalanan kami ini benar-benar lama.. sampai saya merasa ingin menyudahi pendakian dan bermalam di pos bayangan saja..tapi gondrong dan keling mengingatkan saya di sini akan lebih bahaya di banding surken apalagi dekat dengan Lawang saketeng...tidak ada mata air juga di pos bayangan...

Saat kami terus berjalan tiba-tiba ada suara gamelan pelan sekali tapi suara nya seperti tidak jauh di belakang saya...

Gondrong dan keling begitu menjaga saya saat mendengar suara itu..mereka hanya bilang.."..jalan terus teh pokus aja...

Setelah beberapa menit jalan,aku dan Evi minta untuk istirahat,

Aku bersender ke tanah didekat gondrong duduk.. tiba-tiba tepat di atas kepala kami berdua,,baju putih menyentuh kepala kami lewat begitu saja ke atas...saya dan gondrong tatap tatapan saat itu...susah untuk bicara rasanya..(kita tidak melihat wujud apa pun itu hanya kain putih seperti baju saja besar panjang)...

Di sini hanya Evi yang terlihat biasa saja seperti tidak merasakan apa-apa sepanjang perjalanan...

Gondrong langsung menyuruh saya bangun dan melanjutkan perjalanan... karena menurut nya sudah tidak aman di situ...

Saat berjalan senter kepala milik keling & gondrong mati karena habis baterai..

Sekarang hanya tinggal lampu dari Evi dan saya...

Aneh nya....saya ini seperti penasaran saja..

Sepanjang perjalanan saya malah lebih pokus menyoroti pohon-pohon di pinggir track..

Keling selalu bicara..".jangan arahkan senter ke pohon teh...cukup ke tanah aja...

Lama berjalan sampai di Lawang seketeng..kami terus berjalan Karena katanya tak jauh lagi pos 5 surken...

Jalan mulai landai...

Tiba-tiba dari pohon besar sebelah kiri saya tanpa sengaja menyoroti RAISA (sebutan kuntilanak di gunung gede pangrango)...

Dia begitu tinggi rambut nya panjang kusut dan kukunya panjang hitam,wajah nya tertutup rambut nya...

Di situ saya langsung berjalan cepat dan ternyata ke 3 teman saya juga melihat sosok Raisa tersebut...kami lari dengan langkah yang kecil....

Ketika sudah mau memasuki area surken langsung ada suara wanita yang cekikikan ketawa di dekat kami..."chikkkkhiiiiwkkk....

Keling bilang.."udah tenang jangan panik jalan aja sebentar lagi surken tinggal beberapa langkah lagi...

Kami pun terus berjalan dan bertemu rombongan yang dari tambun & Garut..mereka begitu cepat menyusul kami...

Waktu menunjukan pukul 23.28 saat saya melihat jam..dan sampai lah di surken (alun-alun Suryakencana)...

Saat itu saya jalan paling belakang,,,saya merasa kagum melihat surken yang begitu luas dan indah walau tertutup kabut tipis...

Di tengah perjalanan menuju area camp...Keling berpisah karna dia mau mengambil air ke arah sumber mata air..jarak nya sangat jauh...

Saat di surken saya tau ada yang mengikuti di belakang..ada suara gesekan seperti sendal ke tanah,tapi saya tidak berani menengok...saya coba mengejar teman-teman saya berlari karena jujur saya sangat merasa takut saat itu...

Bersambung...

Tuesday, September 15, 2020

Cerpen Kisah Nyata Penampakan Di Air Terjun Part 1


"Gagal mendaki dan memilih jalur ke air terjun yang justru menjadi petaka" . (REAL STORY)

 Kejadian ini terjadi pada tahun 2017 dan baru saya UP sekarang ini karena sebelumya saya pernah mengirim postingan di grup travel dan banyak yang komen ada sesuatu yang ganjal di postingan videoku dan sempat viral juga karena banyak yang membagikan. Saya harap kalian mampir ke postingan ini nggak cuma lihat videonya saja , tapi kalian juga harus baca ceritanya . 

Suatu hari lebih tepatnya di hari Sabtu kakakku(yang perempuan) ngajak saya(laki laki) ingin teraveling tapi nggak tau kemana karena emang belum planning , saya pun meng iyakan karena saya juga pengen liburan dan kita juga lagi sama" free (saya libur sekolah , kakakku libur kerja) , karena kita belum planning mau liburan kemana , akhirnya saya minta bantuan Google untuk mencari tempat wisata yang bagus dan Deket dari rumah , ketemulah Air terjun Tretes di wonosalam JATIM kalo nggak salah (bisa dikoreksi kalo salah nama lokasi/tempat wisatanya) . Saya milih tempat ini karena ada bukit ada juga air terjunnya bayangin aja gimana indahnya tempat itu , aku tawarin ke kakak ku dan dia setuju aja (mungkin karena aku yang bonceng)

Kita pun berangkat pukul 08.00 dari rumah . Ditengah perjalanan,seperti biasa .. kita di sasarin sama Google map yang menyita waktu hampir 4 jam an dan sesekali istirahat di pom, (Asli capek) yang pada akhirnya kita tanya sama seseorang dan Alhamdulillah ada yang tau tempat nya . Kita tiba di lokasi -+pukul 13.30an , di tempat parkir kita disuruh jalan sekitar 1/2 km menuju tempat registrasi/pembayaran , disini kakakku moodnya mulai hilang karena udah capek duluan gara" Google map , tapi aku semangatin biar dia mau Karena sayang banget udah sampe tempat nya . Setelah -+20menitan kita sampe di tempat registrasi/pembayaran , kita dikasih tau kalo disini ada dua tempat , bukit sama air terjunnya , kita mau ke semua tempatnya , karena kita ''mengira'' perjalanannya cuma sejam duajam an . Kita pun mulai melakukan perjalanan  , setengah jam kita jalan dengan jalur yang naik terus dan itu rasanya capek banget , belum lagi kakakku yang belum pernah mendaki nyuruh bawain tasnya dan cerewet nya yang gk habis" (berantem layaknya adek kakak) .

Kita melanjutkan perjalanan dan bertemulah di persimpangan menuju bukit yang masih baru jalurnya dan air terjun yang sudah di kasih petunjuk arah . Karena dari awal saya penasaran sama bukitnya , kita pilih jalur ke Bukit nya dulu , beberapa meter kita jalan kakakku lihat jam dan baru tau kalo waktu sudah menunjukkan pukul 14.30an , disini saya baru sadar kalo kita sama sekali nggak tanya berapa jam waktu yang ditempuh untuk menuju ke Bukit dan air terjunnya 😪,dan akhirnya kita pun memutuskan kembali Ke persimpangan karena kami juga mikir keselamatan dan belum tau pastu jalurnya juga karena baru , Akhirnya kita melanjutkan perjalanan  menuju air terjunnya saja yang kita kira cuma 1/2km saja . Waktu menunjukkan pukul 15.00 , pas kita melakukan perjalanan aku baru ingat kayaknya kita yang terakhir dan gk ada wisatawan lagi mungkin udah sore juga . 


Selang 15menit kita jalan , kami dikagetkan dengan plakat yang bertuliskan perjalanan menuju air terjun -+2km lagi .. disini kakakku mulai pesimis dan ingin pulang aja karena udah mulai sore dan banyak juga orang" yang sudah kembali ditambah jalurnya yang naik turun, kakakku hanya takut kalo tinggal kita berdua saja yang ada di air terjunnya.. , pas aku tanya kesalah satu orang yang sudah ke air terjunnya , ternyata masih ada beberapa orang disana dan mereka juga bilang kalo air terjunnya udah deket , kami pun semangat untuk melanjutkan perjalanan . Waktu menunjukkan pukul 15.20an dan kita belum sampe tempat nya .. kita istirahat sambil mikir lanjut apa enggak , soalnya tanggung banget karena air terjunnya udah keliatan walaupun masih jauh ,dan baru kali ini aku lihat kakakku capek banget . waktu lagi istirahat kita duduk nya berjauhan tiba" kakakku nangis di belakang ku dan aku nggak tau dia kenapa .. dia nangis sambil nunduk ,

Cerpen Kisah Nyata Teror Siluman Biawak Part 3


Sebelum lanjut Part Akhir ini.

Gue mau klarifikasi dulu.. gue bukan penulis horror yg handal.. jadi maaf kalo tulisan gue tak dimengerti..

Jujur saja ini pertama kali gue nulis cerita beginian..

Tapi kisah ini gue alami sendiri sama temen temen gue.. tapi gue sedikit ada tambahan alur ceritanya.. jadi percaya atau tidak itu urusan anda..


Oke gue mulai lagi ya..


Setelah Arox megecek keadaan Wahidin yg ada kejanggalannya itu..

Arox langsung pergi.. menemui temennya yg mengerti hal hal ghaib..


Memang bukan sebuah kebetulan.. karena didesa gue ada seorang anak indigo..


Tak berlangsung lama.. Arox bersama temennya yg indigo itu datang kemudian masuk kerumahnya Wahidin dan menemuinya..


Arox: Tuh bro menurut gue ada yg janggal sama Wahidin tuh..


Indigo: Bentar Rox.. diem dulu..


Setelah anak indigo itu berdiam diri sembari duduk bersila mengadapi Wahidin.. kemudian dia berbalik badan dan berdiri..


Indigo: Rox.. nanti suruh temen temennya Wahidin dateng kerumah gue ya.. nanti gue pulang tunggu dirumah..


Arox: temenya Wahidin  yg mana..  soalnya banyak temenya.. ??


Indigo: kemarin Wahidin sama temenya pergi berburukan ??


Arox: iyaa.. tapi gue gak tau siapa siapanya..


Kemudian anak indigo pun permisi pulang..

Arox pun bingung karena tidak tau siapa saja temenya Wahidin yg ikut berburu itu..


Tanpa fikir panjang Arox punya feeiling untuk menelpon Syamsudin..


Arox: Halloo.. syam.. lagi dimana .. sibuk gak ??


Syam: Dirumah Rox.. mau Yaasiinan.. emg kenapa ya..


Arox: kalo bisa kesini deh sebentar kerumah Wahidin.. ada yg mau gue omongin..


Syam: Yaa udah tunggu nanti gue kesitu..


Syamsudin yg tadinya mau yaasiinan.. karena didesa saya setiap malam selasa rutin yaasiinan..


Tak berlangsung lama.. Syamsudin pun datang kerumahnya Wahidin.. Arox yg sedaritadi menunggu kedatanganya Syamsudin langsung saja berdiri menyambutnya..


Syam: ada apa sih rox.. tumben nyuruh gue kesini..


Arox: sini masuk aja ya..


Kemudian Arox dan Syamsudin masuk kerumahnya Wahidin dan melihat wahidin masih dalam keadaan sepeti Biawak yg terikat..


Syamsudin pun merasa kaget dan heran..

Syam: Wahidin kenapa Rox.. kok bisa begini.. ??


Arox: gue gak bisa ceritain.. mending loe pergi kerumahnya Anak Indigo dia nanti yg jelasinya.. sekarang loe lg di tunggu sama dia..


Syam: Emg dia kesini tadi ya ??


Arox : iyaa.. seteleh gue melihat keadaan Wahidin seperti itu.. krna menurut gue Wahidin bukan sakit seperti biasanya..


Syam: trus gue disuruh apa sama anak indigo itu..


Arox: gak tau juga.. gue juga tadi disuruh sama dia untuk nyuruh temennya Wahidin yg kemarin berburu.. gue bingung krna gak tau siapa siapa aja.. makanya gue telpon loe syam..


Syam: yaa udah gue langsung aja kerumahnya dia.. 


Arox: yaa udah tiati syam..


Syam: oke rox..


Tanpa basa basi pun syamsudin langsung begegas pergi..


Tapi syamsudin tidak sendirian dia menemui Andi yg kebetulan lagi di jalan..


Syam: Ndi.. ayoo ikut gua..


Andi: kemana boy.. ??


Syam: udah nanti loe juga tau..


Kemudian berankatlah syam dan andi kerumahnya indigo itu.. setelah itu tak lama kemudian sampai dirumahnya indigo itu..


Syam: assalamuaikum..


Indigo: waaikumsalam.. eeh masuk syam..


Syam: ada apa ya.. katanya saya disuruh kesini sama arox..


Indigo: duduk dulu.. nanti gue ceritain..


Setelah syam sama andi duduk kemudian indigo itu mulai bertanya..


Indigo: kamu kemarin berburu ya.. ??


Syam: iyaa tadi siang juga berburu..


Indigo: kamu dapat biawak yg ekornya buntung kan ??


Syam: iyaa.. kok tau ya..


Syam merasa keheranan.. Andi juga yg tadinya cuma duduk dan terdiam pun bertanya juga..


Andi: kenapa ya dengan biawak itu..


Indigo: biawak yg kemarin masih ada gak ??


Syam: sudah laku dijual..


Indigo: gini permasalahannya ada pada biawak itu..


Andi: kenapa sih sama biawak itu.. tadi siang juga kita dapat biawak yg sama persis dengan yg kemarin dijual.. ekornya buntung satu jengkal ??


Indigo: naah.. biawak itu bukan biawak seperti halnya hewan.. biawak itu peliharaan kesayangan penunggu disana..


Syam: waduh.. trus gimana ini??


Indigo: kamu harus kembalikan biawak itu ketempatnya lagi.. karena separuh isi penunggu disana datang kesini semua..


Andi: gimana kalo biawak itu sudah mati..


Indigo: setidaknya kamu kembalikan sisa bagian tubuh biawak itu.. karena kalo tidak.. Wahidin dalam bahaya.. dia akan dibawa kealamnya.. dan kalian juga nanti akan mengalaminya..


Syamsudin dan Andi pun kaget atas ucapan Indigo itu.. perasaan dan fikiran mereka saat itu tak karuan..


Indigo: yaa sudah sana kamu ambil kembali biawak itu.. syukur syukur masih ada.. mumpung belum makin larut malam..


Syam: yaa sudah kita nanti ambil lagi biawaknya..


Indigo: ouh iya jika kalian sudah dapat biawaknya trus kalian kembalikan kesungai itu.. kalian harus cepat pergi jangan lama lama..


Andi: emangnya kenapa kalo kelamaan..


Indigo: udah pokoknya langsung pergi ajah kalo kalian gak mau pingsan ditempat itu mah..


Syam: tapi kita gak mungkin balikin lagi ketempat semula waktu dapetin biawak itu soalnya itu kan jauh dari desa..


Indigo: paling tidak kamu kembalikanya masih di aliran sungai itu..


Setelah obrolan selesai Syam dan Andi pun bergegas pergi..

Waktu itu sekitar pukul 9 malam..


Syam menelpon Yaman lalu menceritakan kejadiannya.. karena Yamanlah yg menjual biawak kemarin dipengepul itu..


Kemudian Syam dan Andi mengambil Biawak hasil tangkapan tadi siang.. sedangkan Yaman mengajak Jaenuri untuk mengambil biawak yg kemarin dijualnya..


Untungnya biawak itu belum laku terjual dipengepul biawak itu.. kemudian yaman kembali membeli biawak itu dengan harga lebih dari kemarin yaman jual di pengepul itu dgn harga 30ribu saja kini ia membelinya kembali dgn harga 50 ribu..


Setelah mereka berempat.. Syamsudin. Andi. Yaman dan Jaenuri.. sudah kembali berkumpul lalu pergi ketempat diamana mereka berburu biawak..

Biawak yg dibawa mereka lemas sekali sepertinya akan mati..


Tetapi sesaat mereka mendekati lokasinya.. anehnya biawak yg tadinya lemas kini meronta ronta.. seakan akan tau kalou ini daerahnya..


Masih ingat dengan jembatan yg saat itu ada bapak bapak ngobrol dengan kami saat kami hedak pulang saat berburu.. yg bapak bapak itu menceritakan ada seekor biawak besar sekali yg konon katanya muncul saat ba'da maghrib di hari kamis malam jum'at..


Disitulah mereka mengembalikan biawaknya.. karena tidak mungkin untuk mengembalikannyan ketempat semula karena jauh dari desa dan sangat susah dilalui karena lebatnya pohon bambu..


Memang saat itu gue gak ikut serta dengan mereka karna tak ada yg mengabari gue.. jadi gue dirumahnya Wahidin saja.. untuk memantau kondisi Wahidin yg masih meronta ronta seperti biawak yg terikat..


Gue pun mengabari Syamsudin melalui sms.. saat itu juga mereka sudah melepaskan biawaknya..


Tapi anehnya tak berapa lama kemudian Wahidin yg tadi tengkurap meronta ronta kini agak membaik kemudian dia membalikan badannya dgn posisi terlentang..


Saat itu juga dia mulai siuman dan membaik..

Gue pun mengabari syamsudin lagi memberi tahu kalo wahidin membaik..


Kemudian mereka berempat akhirnya datang bersama kerumahnya wahidin.. dan Alhamdulilah seketika itu dia benar benar pulih kembali..


Kami semua mengucapkan rasa syukur kami kepada Tuhan.. walau pun kejadian ini kami masih tak percaya dan merasa aneh..


Kami semua akhirnya memutuskan utk tidak berburu lagi utk sementara waktu ..


Kami semua mengambil hikmah dari semua kisah ini.. Menjadikanya sebagai pelajaran dan peringatan.. bahwa semua makhluk hidup itu ada pemiliknya.. 


SEKIAN

Monday, September 14, 2020

Cerpen Kisah Nyata Teror Siluman Biawak Part 2


Lanjut lagi ya karna pejalan baru di tengah tengah..

Setelah jemputan datang kami pun pulang.. Biawak yg besar dan bereekor buntung itu pun di bawa sawa Wahidin..

Setelah kami sampai di desa.. Kami pun pulang kerumah masing masing dan gue langsung mandi.. Dan sholat maghrib karna kami sampai di desa kami pukul setengah 7 malam..

Singkat cerita.. Biawak hasil buruan kami itu di jual kepengepul.. Dengan harga 30ribu perekor Biawak utk ukuran segitu.. Memang tak seberapa tapi bukan itu tujuan kami.. Kami hanya sekedar hobi berpetualang..

Uang hasil jual biawak tadi kami belikan Rokok dan Kopi saat kami berkumpul kembali..

Saat itu yg ngejual biawak kepengepul adalah Yaman..

Kami berkumpul untuk membahas perburuan tadi.. Tapi salah satu temen kami tak nampak hadir.. Yaitu Wahidin.. Mungkin kecapean pikirku..

Kami membahas peburan untuk besok siang.. Karna kami masih berambisi dan lokasi tadi baru saja di tengah tengah.. Jadi belum sampai ke hulu sungai.. Sesuai target kami..

Singkat cerita.. Hari sudah siang.. Sepertinya kita akan lanjut lagi berburu..

Seperti kemarin.. Kami berangkat jam 1 siang.. Anggota masih tetap ada 6 orang.. Hanya saja Wahidin tak ikut serta.. Kami tidak tau alasanya apa..

Sebagai gantinya Wahidin yaitu Endra.. Dia juga sama seperti Andi.. Senior & berpengalaman dalam hal beburu.. Bedanya Endra itu berburu adalah pekerjaannya jadi mencari uang dngn berburu.. Sedangkan Andi hanya sekedar hobi saja.. Tetapi Endra itu orangnya sedikit ceroboh susah diatur..

Seperti biasa kami ngojek diatar orang rumah..

Sesampainya di lokasi kami berburu kembali.. Strategi seperti hari minggu kemarin kami menjadi 2 kelompok..

Ternyata hari ini juga sama seperti kemarin kami belum mendapakan buruan kami walau pun kami bebeda lokasi menuju arah kehulu sungai..

Kami masih semangat walau belum mendapatkan buruan ...

Yaa benar saja kesabaran kami berbuah hasil.. Kami melihat biawak cukup besar berada diatas pohon tinggi..

Seperti biasa Syamsudin sebagai pemilik senapan langsung saja mengarahkan senapannya ke Biawak tadi.. Begitu shoot peluru mengenai biawak itu.. Tapi biawak itu masih berada di pohon.. 3x shoot biawak itu masih belum roboh juga.. Akhirnya senapan pun pindah tangan.. Kini ganti yg mengshoot biawak itu adalah Andi.. wusstt peluru mengenai tubuh biawak itu dan darah biawak itu pun mentes dari atas pohon.. Tapi biawak itu masih belum tumbang juga.. Hanya saja mulai turun dari atas pohon.. Kami sedari tadi siap siaga dibawah pohon untuk siap manangkap biawak itu ketika jatuh..

Saat biawak turun dari pohon seketika itu kami kejar dan sayang sekali biawak itu lolos..

Gue: gila tuh biawak.. Berapa kali di tembak sampe keluar darah tetep aja masih lolos..

Aneh memang dibandingkan kemarin yg kami dapat cuma sekali shoot.. Bluuk jatuh dan kena..

Tapi mungkin kami belum beruntung jadi kami lanjutkan perjalanan lagi..

Kami masih menyuri sungai tiba tiba di sungai nampak seekor biawak lagi.. 

Kali ini kita tidak menmbaknya tapi kami karena biawak sedang berenang mengarah kekami.. Dan kami ambil posisi masing masing dan turun kesungai.. Utk mengepungnya..

Setelah biawak terkepung.. Biawak itu memberikan perlawanan saat Andi mau menangkapnya.. Sontak saja tangan Andi berdarah karena gigitan biawak itu.. Andi langsung naik dari sungai kepermukaan tanah.. Karena darah dari tangannya mengalir terus..

Biawak masih memberikan perlawan dan kali ini Endra yg terkena gigitan biawak itu.. Endra pun menjerit kesakitan..

Endra: Aaaaaww.. Biawak sialan...

Seketika itu hujan turun.. Kami tidak menyadari kalou mendung krna lebatnya pohon bambu..

Biawak masih belum kena dan masih memberikan perlawanan..

Endra kembali turun tangan dan hapss.. Biawak berhasil ditangkap oleh Endra dgn cara medudukinya..

Gue.. Yaman dan Syam menghapiri Endra utk mengamankan biawaknya..

Biawak pun diangkat kedarat walaupun belum diikat..

Yaman: Jaen.. Ambil tali ditas..

Jaenuri tidak ikut turun kesungai karena mengamankan tas yg di dalamnya ada hp takut basah karena kehujanan..

Jaenuri: nih talinya man..

Yaman pun mengikat biawak itu.. Syam memegangi bagian kepala biawak dan gue memegangi tubuhnya takut biawak itu berontak..

Setelah berhasil kami ikat.. Tapi ada yg aneh dengan biawak ini.. Soalnya sama ujung ekornya sama buntung satu jengkal..

Kami tidak merasa cuek saja jadi Kami pun bergegas beteduh.. Karena hujan belum reda..

Syam: kita berteduh dulu kedesa sekitar sini.. Kita cari warung utk ngopi dulu..

Andi: iya syam.. Sekalian beli betadine sama Handsaflash nih buat buat jari gua nih..

Endra: iya gue juga jari tangan gua takut infeksi nih..

Kami pun beranjak kedesa untuk berteduh dan mencari warung..

Setibanya di warung.. Kami mesan kopi dan betadine..

Diwarung itu juga ada 2 bpk bpk yg sama mungkin berteduh juga sambil ngopi..

Bpk bpk: habis dari dari mana jang..

(bahasa sunda)

Kami pun menjawab ..habis berburu pak..

Bpk bpk: ouh.. Berburu biawak ya ??

Tiba tiba ada bapak bapak lagi datang.. Dan bertanya..

Manah biawaknya jang ??

Gue: nooh pak segede gitu masa gak lihat..

Setelah gue tunjukin biawaknya.. Bapak bapak itu diem sebentar sembari menatap biawaknya..

Kemudian berkata..

Hati hati ya jang kalo dapet biawak buntung yg panjang ekornya cuma 1 jengkal saja..

Syam: laah klo ini sih pak gimana ??

Gue: kemarin juga kaya gini pak sama ujung ekornya buntung sejengkal dan udah laku kami jual..

Bapak: kalo segini sih gak apa apa..

Andi: emg knpa siih pak ??

Bapak: enggak.. Soalnya kemarin ada yg berburu biawak sama buntung juga tapi panjang ekornya satu jengkal.. Trus mereka balik lagi kesini nganterin biawaknya dilepasin lagi..

Kami semua diem saja seolah olah mengkis hal hal negative dipikiran kami..

Tak terasa hujan reda.. Setelah kami bayar kewarung langsung saja kami lanjutkan menyusuri sungai..

Tak berselang lama kami semua dikagetkan dengan suara ceburan air sungai.. Kami berlari mencari sumbernya.. Ternyata suara tadi adalah biawak yg terjun dari pohon kemudian masuk kelubang besar ukuran sekitar 40cm lebar lubang itu.. Dan kami melihat ujung ekornya saja.. Dari jejak jejak kaki biawak itu kami kaget karena seukuran telapak tangan orang dewasa.. Karena biawak itu berhasil masuk lubang jadi lewat saja..

Tak terasa hari mulai gelap..  Jam menunjukan pukul 17:00.. Kami berencana pulang lebih awal supaya pas maghrib kita sudah dirumah..

Perburuan pun berakhir.. Walau pun hasil buruan cuma 1 ekor saja..

Kini kami pulang tidak menyusuri sungai melainkan masuk kedesa utk mempercepat langkah kami..

Setibanya didesa banyak warga sekitar memandangi kami dengan keanehan..

Saat kami sedang duduk istirahat sembari nunggu jemputan..

Salah satu seorang warga menghampiri kami dan bekata..

Mas: jang berburu biawak ya ??

Kami pun menjawab "iya mas"..

Mas: kemarin juga ada yg berburu biawak.. Cuma dibalikin lg kesungai.. (Sembari menunjuk kearah jembatan)

Masnya itu bercerita seperti bapak bapak yg diwarung itu..

Mas: Kalo mau biawak gede mah jang malam jum'at ba'da maghrib sok lewat dibawah jembatan itu.. Kira kira gedenya lemari 2 pintu..

Andi: busseeet ogah dah aah..

Gue hanya senyum tipis ajah mendengar ceritanya..

Tak lama kemudian orang itu pergi.. Dan jemputan pun datang.. sampai dirumah sebelum maghrib..

Setelah itu Yaman kembali kepengepul utk menjual buruan kami.. Tapi.. Kemudian yaman balik lagi dengan membawa kembali biawak itu..

Syam: knpa dibawa balik lagi man ??

Yaman: biawak yg kemarin disitu juga belum laku.. Jadi yg ini terpaksa bawa balik lagi..

Syam: ydh besok ajah jualnya..

Setelah itu kami kembali ketugas masing masing..

Dan seperti biasa didesa kami setiap malam selasa rutin ada Yaasiinan.. Dimulai jam 8malam sampe selesai..

Tapi tiba tiba kok sepi.. Temen temen pada kemana fikirku..

Walau temen temen gak hadir acara yaasiinan pun berlangsung..

Setelah yaasiinan selesai.. Gue dapet kabar bahwa Wahidin sakit..

Pantesan dia gak ikut berburu siang tadi..

Memang Wahidin sebelmun ikut berburu itu baru mendingan dari sakit tapi dia memaksa walau pun sdh dipringatkan kakaknya..

Setelah yaasiinan selesai gue sama pak RT mau nengok Wahidin.. 

Setelah sampe dirumahnya wahidin.. Gue kaget knpa kok banyak bgt orang..

Setelah itu gue coba masuk dan bertanya kekaknya Wahidin.. Namanya Arox..

Gue: Rox.  Sebenernya apa yg terjadi..??

Arox: Wahidin.. Katanya kesurupan biawak Ka..

Gue: laah gimana ceritanya?? Merasa aneh heran dan bingung..

Arox: yaa udah loe masuk ajah kekamarnya..

Setelah itu gue masuk kekamarnya Wahindin.. Posisi dia lagi tengkurep dengan tangan diatas pinggang kaya tangannya kaya diikat gitu.. Seperti foto biawak itu..

Gue pun keluar lagi.. Ngobrol lagi sama kakaknya..

Dan gue bertanya..

Gue: gimana loe bisa tau kalo wahidin itu kena biawak..

Arox: tadi kan gue waktu ba'da magrib.. Ngecek si wahidin.. Pas gue cek.. Gue ada yg aneh nih sama wahidin..


Bersambung...

Sunday, September 13, 2020

Cerpen Kisah Nyata Teror Siluman Biawak Part 1


Cerita ini sekitar thn 2017 lalu.. Saya alami sendiri..

Nama gue Eka Shaehu ..

Awal cerita pertama temen gue ngajakin berburu.. Di salah satu desa di Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang Jabar..

Saat itu mungkin gue cuma sekedar iseng saja.. Karena ajakan temen..

Kami memulai setelah selesai kerjaan kami.. Tepatnya jam 1 siang.. Saya masih ingat waktu itu hari minggu..

Kami semua yg ikut berburu ada 6 orang..

Pertama namanya Syamsudin.. Dia ini yg punya senapan angin..

Kedua namanya Andi.. Dia yg pake baju merah maroon topi hijau..

Ketiga namanya Jaenuri.. Yang pake baju kuning..

Dan yang pake baju reglan orange namanya Yaman... Terakhir gue sendiri.. Difoto itu gue gak ada karena gue yg motoin mereka..

Singkat cerita.. Samsudin yg rumahnya deket gue bilang ke gue..

Syam: Ka.. Siang ini kita hunting yuk.. Biasa berburu..

Gue: spotnya di mana Syam !! Trus sama siapa ajah ??

Syam: biasa di Jatiragas..

Ada deh ntar gue kontak temen temen..

Gue: yaa udah oke dah hayoo..

Memang lokasi itu sering jadi lokasi kami berburu.. Jadi kami sudah terbiasa..

Tak lama kemudian kami berkumpul.. Dan setelah persiapan sudah komplit.. Kami pun bergegas utk otw dengan motor..

Karena lokasi kami dari tempat lumayan jauh.. Karena kami bebeda kecamatan.. Kami tinggal di desa salah satu kecamatan Cilamaya Wetan..

Kami pun diantar dengan motor.. Atau ngojek.. Karena mustahil utk menitipkan kendaran kami..

Setelah kami sampai dilokasi kami pun bergegas untuk siap siap..

Saat itu kami tidak ada rasa curiga atau pun gelisah.. Mungkin karena kami sudah terbiasa berburu..

Kami pun membuat strategi dan berpencar.. Dan menjadi 2 kelompok.. Kelompok gue ada Syam & Andi.. Di bagian Kanan Sungai..

Sedangkan Jaenuri. Yaman & Wahidin di bagian Kiri Sungai..

Sungai kami telusuri memang kecil paling kira kira 3meteran.. Jadi kami masih bisa memantau..

Kami menyurusi sungai dan memulainya dari Hilir..

Keanehan pun terjadi setelah kami menyusuri tak ada satu pun Biawak yg muncul.. Padahal tempat ini paling banyak Biawaknya..

Yaah sebenarnya kami memang sudah Vakum berburu disini.. Jadi hari itu kami memulai lagi berburu disini..

Salah satu temen gue bilang..

Andi: Ini biawak pada kemana ya gak biasanya..

Andi memang dibilang paling senior disini karena dia memang sering berburu..

Terus terang saya memang baru petama kali berburu ditempat ini..

Setelah hampir 2jam lebih hari mulai gelap.. Padahal jam masih menunjukan pukul 15:30.. Mungkin karena lebatnya pohon bambu..

Yaa sepajang jalur yg kami telusuri memang sebagian adalah pohon bambu di kiri kanan tanggul sungai itu..

Kami pun istirahat sejenak.. Untuk melepaskan lelah kami..

Saat kami sedang istirahat kami dikejutkan ada seekor Biawak..

Kami dengan sigap ambil posisi untuk shoot biawak itu.. Dan senapan pun wuussttt mimis/atau peluru melesat.. Namun sasaran meleset alhasil biawak pun melarikan diri..

Kami berenam mengejarnya.. Namun biawak lolos setelah kami kejar.. Saat nafas tengah ngos ngosan tiba tiba Aroma pandan menyegat sekali..

Gue pun bilang.. woy bau pandan nih.. Darimana ya asalnya..

Andi: mungkin ini ada Luwak kali..

Andi memang terbiasa karna dia senior jadi dia lebih banyak tau..

Tapi beberapa temen gue tak menghiraukan nya.. Mungkin karena masih kecapean ngejar biawak tadi..

Kami pun melanjutkan lagi untuk berburu.. Tapi hari semakin gelap.. Jam menunjukan pukul 5 sore..

Sang surya saat itu sinarnya tak mampu menembus lebatnya pohon bambu jadi jam 5 sore pun seperti waktu maghrib..

Hari semakin gelap.. Rasa putus asa kami atas perburuan hari ini mulai menghantui pikiran kita.. Karena tak ada satupun buruan yg kami dapat..

Syam: kagak biasanya biawak sepi gini..

Andi: Iyaa biasanya disini banyak bgt..

Wahidin: mungkin udah habis diburu kali ya..

Jaenuri: masa habis.. Kitakan baru berburu lagi kesini.

Yaman: kan yg berburu kesini bukan kita doang..

Gue yg sedari tadi diem saja.. Karena merakan lelahnya jalan muter muter menyusuri sungai..

Mungkin 3KM jaraknya.. Itu baru setengah ukuran panjang sungai itu..

Rasa kecewa ada dibenak kami.. Tapi saat kami tengah ada seekor biawak kecil ukuran lengan dewasa (ukuran biawaknya ada di foto dan di pegang wahidin baju hijau) melitas di sungai.. Saat itu Jaenuri itu yg melihatnya..

Jaenuri: itu syam.. Ada biawak..

Syam: mana.. Mana ?!

Karena saat itu si Syam yg bawa senapan anginnya..

Senapan angin pun dikeker ketarget dan wusssstt.. Tepat kali ini peluru mengenai tubuh biawak itu.. Tapi biawak itu masih bisa lari cuma karena kami sudah siaga jadi biawak kecil itu pun berhasil kena di tangan Wahidin..

Rasa kecewa kami pun sedikit terobati karena biawak ini.. Lumayan laah dari pada gak dapet sama sekali..

Setelah biawak kecil itu sudah kami ikat.. Kami melanjukan lagi..

Hari semakin gelap.. Jam menunjukan pukul 17:30.. Tapi kami masih enggan untuk pulang.. Kami masih berambisi mendapatkan biawak lebih besar..

Syam: kita agak percepat jalannya tapi dengan keadaan siaga ya..

Andi: oke.. Sini Syam.. Senapan bawa gue ajah..

Syam: niih gue juga agak capek dari tadi bawa nih senapan..

Saat itu senapan di bawa sama Andi.. Dan seketika itu saat Andi melihat seekor biawak ada diatas pohon..

Andi: wooyy kalem kalem ada biawak nih..


Gue dan temen siap siaga..

Dan wusstt senapan mengenai biawak malang itu.. Dengan sekali shoot.. Biawak pun jatuh dari pohon..

Kami pun sigap dengan cekatan Wahidin menangkapnya..


Woy woy ambil tali di tas seru Wahidin sembari menduduk biawak yg ada ditanah itu..


Dan setelah berhasil diikat.. Biawak itu masih keadaan hidup.. Tapi kami merasa keanehan biasanya biawak itu liar sekali dan daya tahan tubuhnya kuat jadi kalo cuma sekali shoot itu jatuh dan lemas.. Itu gak mungkin.. Biasanya dia bakalan meronta ronta..

Karna ukuranya yg jauh lebih besar dari yg petama kami dapat (lihat biawak yg dipegang Andi baju merah maroon)..


Dan satu hal lagi Biawak yg kami dapat itu ekornya buntung satu jengkal di ujungnya..


Kami pun tak merasa curiga walau merasa aneh..

Pikiran kami pun tak mengkhiraukannya..

Yang ada dibenak kami kami berhasil mendapatkan buruan kami..


Dan kami pun segera mengakhiri buruan kami dan bergegas pulang karna waktu semakin gelap.. Kami pun menelpon orang rumah supaya menjemput kami..


Disinilah awal dari Petaka datang..

Tapi nanti di part 2 yaa karna perburuan bukan 1 hari saja tapi dilanjut hari esoknya.. Karna taget kami berburu dari Hilir sugai sampai ke Hulu.. Dan kami baru di pertengahan..


Bersambung...

Saturday, September 12, 2020

Cerpen Misteri Pendakian Alam Gaib Di Gunung Malabar Part 1

PENDAKIAN MISTIS

DIMENSI LAIN DI GUNUNG MALABAR

(Berdasarkan Kisah Nyata)

Penulis : Apriandhika

Editor Gambar : Saefulrzl

Pada hari Kamis 20 Juni 2019 tahun lalu tepatnya pada Malam Jumat, Saya Pokis mendaki Gunung Malabar yang terletak di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saya berangkat bersama Lima teman saya yang bernama Agan, Adul, Irgi, Kipot, dan Amad.

Gunung ini memiliki ketinggian 2343 Mdpl.

Kami berenam berangkat pukul setengah 6 sore menuju ke kampung terakhir sebelum jalur pendakian, Kampung tersebut bernama Cidulang.

Sebelum sampai diperhentian terakhir tempat Kami menitipkan kendaraan, kami sholat Maghrib di Masjid yang berada di perkampungan tersebut.

Setelah selesai sholat kami membeli sedikit logistik tambahan di sebuah warung yang terletak di dekat Masjid tempat kami melaksanakan sholat Maghrib sambil mempacking ulang barang, ketika Kami sedang mempacking ulang barang, seorang Bapa Tua yang keluar dari Masjid tiba-tiba bertanya,

“Bade kamarana Jang?” (Mau pada kemana Dek?) Sambil berjalan menghampiri Kami.

Kami pun spontan menjawab sambil serentak menoleh ke arah Bapa tersebut.

“Ke Gunung Malabar Pa”

Dia pun melanjutkan pembicaraan dengan bilang

“Meni waranian ka Malabar wayah kieu” (Berani sekali ke Malabar-malam begini)

Lalu teman Saya Adul menjawab dengan lantang,

"Ah da pamuda Pa" (Ah kan Anak Muda Pa) sambil sedikit tertawa,

Lalu bapa itu pun bilang,

“Nya sing ati-ati we Jang Malabar mah sanget keneh” (Yang penting hati-hati ya Dek, Malabar masih angker)

Saya pun menjawab sambil sedikit tersenyum,

“Muhun Pa Hatur Nuhun” (Iya Pak, Terimakasih)

Setelah selesai melakukan packing ulang kami pun bergegas menuju ke tempat penyimpanan kendaraan yang terletak tidak terlalu jauh dari masjid tersebut. Setelah sampai diujung pemukiman warga dan kami sedikit berbincang dengan pemilik rumah tempat kami menitipkan kendaraan yang sekaligus dia adalah Ketua RT di area pemukiman tersebut.

Sekitar pukul setengah 7 malam, Kami mulai menyalakan 2 buah headlamp dan 1 buah senter, dimana hanya itu alat penerangan yang kami bawa, lalu Kami berdoa bersama dengan harapan ‘dapat pergi dalam keadaan sehat dan bisa pulang ke rumah dengan selamat’.

Untuk kemudian ketika selesai berdoa, Kami memulai langkah pendakian menuju area perkebunan, namun beberapa meter sebelum mulai masuk area perkebunan ada yang cukup menyita perhatian kami.

Kami di gonggongi cukup lama oleh seekor anjing berwarna hitam yang entah milik siapa, yang tentunya tidak terlalu Kami hiraukan, mengingat di perkampungan seperti ini  memang sudah biasa terdapat banyak anjing penjaga hewan ternak maupun penjaga kebun, meskipun anjing ini sedikit aneh karena anjing kebanyakan yang kami lihat biasanya terlihat bergerombol dan tidak berada di perkebunan jika tidak sedang mengikuti majikannya, tapi Kami tidak melihat satupun anjing lain ataupun orang selain kami berenam di sekitar situ.

Kami pun mulai memasuki area perkebunan saat itu.

Baru sekitar 10 menit Kami berjalan memasuki area perkebunan,

Kami semua  mendengar suara yang suaranya seperti suara besi yang di pukul dengan besi berulang-ulang,

Suaranya terdengar seperti “Teng…Teng…Teng..” terus-menerus berbunyi dengan nada yang statis.

Bersambung...

Cerpen Kisah Nyata Teror Digunung Pangrango Part 2

Cukup senang sekali akhirnya bisa tidur puas gila bangat belum tidur begini sampai-sampai di setiap pos tidur-tidur ayam hahaha , ...

Okelah kami berdua mulai mendirikan tenda ... Pak lu bantuin ya kita berdua bangun tenda abis itu keluarin komsumsi kita masak-masak , gua mau tidur jam 8 malam ini badan gua ngerentek mata gua udah gak kondusif bangat ...

Di POS KANDANG BADAK ini terbilang masih sepi bangat kehitung lah kemungkinan hanya ada 20-30 pendaki , yang bertujuan berbeda-beda ada yang mau summit nanti ke puncak gunung gede ada juga yang mau summit ke pangrango , tapi rata-rata ya kebanyakan mau ke puncak gunung gede ...

Kamu berdua yang dari awal sudah satu tujuan ingin ke puncak pangrango dan lembah Mandalawangi pun tetap tidak berubah .. pokoknya pangrango ya pak gua pengen singgah kelembah mandalawangi tempat Soe Hok Gie .

Yaudah iya makan aja dulu abis itu tidur , malam gelap mulai datang dan dingin selalu hadir ,suara-suara aneh berdatangan entah itu suara pohon yang tertiup angin dan bergesekan hingga timbul suara-suara yang aneh , kami tak ambil pusing , buka sleeping bag , tidur jam 8 ..., Anjirrr masih terasa bangat dingin , gua buka tuh p3k untung bawa hot cream , yaudalah ya berdua main gosok2an hotcream biar ada hangat2nya gitu..

Anjirrr gila bangat lu pak naruh hot cream banyak bangat di badan guaaa 😩 , tidur dengan posisi telentang bukan telantang karena kalau tidur sambil telantang bisa bahaya bisa mengundang orang untuk datang kerumah kita , jadi kami berdua tidur telentang , disini gua ga betah bangat ngerasain suhu tubuh yang aneh , posisi badan atas dingin , posisi badan bawah belakang panas akibat hot cream 🤣🤣 sampai males bangat ngerasain nya tiba-tiba kita berdua pules sampai summit kesiangan bangun jam 7 , buka pintu tenda anjirr saikkk dingin bangat woi anginnya juga bukan main kenceng bangat , sampai-sampai yang di tenda rata-rata summit jam 8 - 9 pagi .

Gua bangun duluan , liat si ukon masih asik tidur pules bangat , inisiatif ajalah seduh kopi sambil baca buku , lagian tujuan gua kan bukan mengejar sunrise , jam 8 pagi gua bangunin , woi pak bangun woi bangun jam 8 ini mau ke puncak pangrango jam berapa kita ?  Akhirnya ukon bangun tak lupa gua suguhkan susu jahe biar dia semangat, dan masak2 ringan isi tenaga untuk ke puncak pangrango .

Ukon : pak hujan ya ? Kok dingin bangat mana kaya berisik bangat diluar .

Damar : mana ujan sih pak , itu angin kenceng bangat tuh liat sekitar tenda lain aja masih nyantai belum pada naik summit semua , padahal udah jam setengah 9 .

Akhirnya kami berdua masak-masak untuk sarapan isi tenaga , packing kembali untuk summit , bawa air , cemilan Snack , roti , mie rebus 2 ,kopi sachet , jahe , susu sachet.

Setelah semua sudah beres oke kita naik ke atas ... Eh liat ada petunjuk tuh , kanan ke puncak pangrango lurus ke puncak gede , oke kita ambil kanan oke pak ? 

Ukon : oke , emang tujuan kita mau ke pangrango kan pak yaudah ambil aja kanan ,lu depan ya buka jalan .

Dari pos kandang badak menuju puncak pangrango itu kita hampir 3 jam baru sampai , karena ya definisi kita cukup simpel , kalau capai istirahat bakar rokok sebatang , begitu2 aja terus , ga usah buru-buru puncak gunung gak kemana-mana.

Puncak pangrango ini masih terbilang bener2 rimbun dan rimba , keren lah asli pokoknya terbilang masih enak bangat pantes aja sepi yang menuju ke pangrango kita berdoa bener-bener kaya berpetualang di dunia lain , dah gitu belum ketemu pendaki yang naik ke pangrango ataupun turun dari puncak 

***

Cerita ini di buat sesuai kejadian pengalaman ,
- DI TEROR SUARA GERAMAN MAHKUK HITAM BESAR.
- SEBUAH RENUNGAN KEHIDUPAN DI TELAGA AIR BIRU.
- DI BERI PETUNJUK JALAN MENUJU PUNCAK PANGRANGO OLEH BURUNG BULU HITAM PARUH KUNING.
- DISAMBUT ELANG YANG GAGAH DI LEMBAH MANDALAWANGI.
- SUARA ANAK ITIK .
- FOTO-FOTO YANG BANYAK TERLIHAT EKSISTENSI MAHLUK TAK KASAT MATA

Cerpen Kisah Nyata Penampakan Nenek Penghuni Gunung Gede Part 1


Assalamualaikum temen-temen.

Semoga semua dalam lindungan Allah SWT. Saya bukan orang biasa yang menulis, mengetik cerita.tapi saya ingin berbagi pengalaman pribadi saya ketika melakukan pendakian gunung gede di Bogor Jawa barat. Mohon maaf ya apabila kata-katanya kurang pas atau tidak sebagus penulis biasanya..

Ok...nama saya Novi nurcahyani Sugiyanto..panggil saja Ovie.saya salah satu member komunitas pendaki gunung..

Lama saya dan suami bekerja di Malaysia hingga akhirnya kami pulang ke Indonesia dan menetap di Bekasi Jawa barat.

Rasa rindu saya ingin mendaki gunung menggebu-gebu setiap hari nya.ketika itu yang saya agendakan gunung selamet via bambangan pada bulan Agustus tahun 2019.

Tapi tiba-tiba saya mendapat kabar gunung selamet erupsi dan akhirnya pendakian pun di tunda..

Lama berpikir,,,saya sharing dengan teman saya yang bernama bocor (ketua komunitas).

Saya minta rekomendasi dia, kira-kira gunung mana yang bisa saya daki dengan teman saya yang masih pemula.dan dia merekomendasikan gunung gede saat itu.

Saya mengiyakan dan kebetulan teman saya Evi, orang Jakarta timur Cakung ingin sekali naik gunung saat itu..

Singkat cerita tibalah saatnya kami berangkat ke kota Bogor tgl 29 November 2019.

Kami berangkat menggunakan kereta..darai stasiun Cakung menuju stasiun Bogor.

Tak lupa persiapan logistik sudah siap semua,dan saya berpamitan kepada suami saya untuk pergi..

Setelah perjalanan panjang hingga sempat tertidur di dalam gerbong kereta,

Akhirnya sampai lah kami di stasiun Bogor dan sudah ada dua teman laki-laki saya saat itu..

Mereka satu komunitas sama saya hanya beda wilayah saja, mereka rupanya sudah menunggu kami di dekat JPO depan stasiun Bogor.

Kami pun berangkat ke kontrakan teman kami yang letaknya lumayan jauh dari stasiun Bogor.

Sebut saja namanya keling dan gondrong.

Sesampainya di kontrakan kami pun packing ulang tas kami dan langsung menuju ke basecamp kang Aloy di Cibodas untuk mengurus simaksi.

Pukul 14.23 kami sampai di basecamp kang Aloy..Keling bertanya kepada saya..."teh apa yakin mau nanjak sore ini..??..mendung takut hujan udah mulai kabut...(cuaca saat itu memang sedikit mendung..)

Gondrong pun melanjutkan omongan keling..."Apa mau besok pagi aja,kita tidur di basecamp malam ini..??

Saat itu saya sedang halangan (haid).tapi sudah memasuki hari-hari terakhir kalau tidak salah 4/5 hari saya sudah haid.

Ya menjawab...."iya kang naik aja gapapa..

Evi pun melanjutkan ...."kita harus naik hari ini, karena malam Minggu saya harus udah sampai di Jakarta agar hari Minggu nya dapat beristirahat karna hari Senin pagi kerja..

Saya pun bertanya lagi...."apa resiko nya tinggi kang bila naik sore..??

Keling pun menjawab...."tidak teh cuman takut hujan aja...kalau soal haid tergantung kita, sugesti kita,kalau sudah niat insyaallah gapapa..asal jangan jorok jangan sompral,kalau mau buang air kecil di saring pakai tisu takut nya ada darah yang netes ke tanah..

😁Sedikit lega aku mendengar nya..

Dan dalam hati aku yakin,aku pasti akan baik-baik saja.....

Lalu kami pun makan dulu di warung sekitaran bescamp Cibodas seblum melanjutkan perjalanan menuju bescamp via putri.

Sampai lah kami di bescamp via putri,tapi saya kurang tahu parkir motor di tempat siapa..


Kami sudah siap dan akan memulai pendakian.

Saya sempat bersih-bersih dulu di WC basecamp dan mengganti pembalut,,saya liat darah sudah tidak keluar lagi hanya plek-plek saja sedikit...

Akhirnya kami pun mengawali pendakian dengan bismillah dan berdoa bersama...

Jalan aspal yang menanjak dan mulai memasuki ladang warga..kami bercerita, tertawa,tapi saya dan Evi banyak berhenti, mungkin karena sudah bertahun-tahun saya tidak naik gunung jadi serasa baru lagi..dan Evi teman saya pun sama terengah-engah ketika beberapa kali berjalan..(ini pendakian pertama Evi...).

Kami berjalan terus meski lambat..

Ketika sampai di pos 1 leugok leunca,kami

Bertemu beberapa pendaki yang hendak turun.

Teman saya keling sempat tertidur lama karna dia habis bergadang semalaman..(ada pekerjaan)..

Kami pun bersantai berpoto sambil menunggu keling bangun..

Saat itu ada 4 grup yang naik..

Grup saya 4 orang,,dari tambun 2 orang

Dari Garut 2 orang dan dari Tangerang seperti anak kuliah berjumlah 11 orang..

Kami melakukan pendakian pada hari Jumat malam Sabtu....

Akhirnya kami membangunkan Keling karena hari sudah semakin sore,,

Setelah siap,kami berpamitan kepada rekan-rekan pendaki lain untuk jalan duluan..

Kami berjalan lagi lambat lain sambil bercerita.

Saat tiba di tanjakan yang ada pohon tumbang di pinggir track,,dari jauh saya melihat ada kakek-kakek menggunakan baju hitam sedang duduk memegang tongkat kayu dengan wajah pucat,,saya melihat nya terus menerus..

Saya tak merasa heran atau takut, karena saya pikir itu adalah penduduk lokal yang mau berjualan di area pos pendakian atau di puncak gunung.. karena beberapakali kami pun sempat bertemu bapak-bapak yang memanggul dagangan nya menuju puncak gunung gede.

Tapi aneh nya...ketika semakin dekat sosok kakek itu hilang..saya langsung kaget dan menoleh ke gondrong dan keling..

Sempat saya mau menanyakan tentang kakek itu ke gondrong,dia melihat atau tidak ...Keling langsung memotong pembicaraan saya..."udah teh jalan aja terus pokus ke jalan jangan liat ke kiri dan ke kanan..(saya pikir Keling juga melihat apa yang saya lihat...).


Kami pun terus berjalan dan akhirnya sampai lah di pos 3 buntut lutung.

Karena hari mulai gelap waktu menunjukan pukul 17.53 kami memutuskan untuk beristirahat, membuat kopi dan gorengan tempe untuk kami makan sambil menunggu adzan magrib selesai..

Cukup lama kami beristirahat di pos 3 buntut lutung.

Waktu menunjukkan pukul 19.17 saat itu.

Kami bersiap-siap merapihkan tas kami dan membersihkan bekas sampah masak kami.

Saat mau memulai pendakian.. tiba-tiba saya ingin buang air kecil.. lagi-lagi keling mengingatkan saya agar memakai tisu untuk menyaring air kencing agar tidak ada darah yang netes ke tanah..

Saya pun mengangguk dan meminta antar ke Evi untuk menunggu saya ketika buang air kecil....

~di sini mulai lah keanehan terjadi.....

Saat itu Evi meminta duluan dan saya yang menunggu..... setelah itu baru saya yang buang air kecil...tak henti-henti saya membaca doa dan mencoba tenang agar semua baik-baik saja...saat selesai buang air kecil..tisu yang untuk menyaring pun saya masukan ke dalam pelastik lalu saya mencuci tangan dan plastik itu pun saya masukan ke dalam kantong jaket untuk nantinya di masukkan ke plastik sampah.

Saya lihat darah sudah tidak ada yang keluar lagi..hanya bekas plek saja..

Ketika mulai berdiri ada yang mengikuti gerakan saya..saya menoleh ke belakang..tidak apa-apa tapi ada suara seperti daun terinjak-injak....!!! kresek... kresek.... kresek...

Sontak bulu kuduk saya merinding..saya lalu berjalan menuju Evi tiba-tiba ada yang mendesah tepat di samping telinga saya..angin angin-angin nya sampai terasa ke leher saya..

Suara itu begitu kecil ...."hhhhhhaaaaaahhhhh....

Saya pun mengajak Evi untuk berjalan cepat menuju gondrong dan keling..

Di situ saya mencoba tenang..saya tau apa pun yang terjadi saya tidak boleh menceritakan nya..saya Evi Keling dan gondrong pun melanjutkan perjalanan menuju pos 4.

Gondrong bilang ...."teteh sama Evi mulai dari pos 3 ini track nya agak berat..apalagi kita jalan malam,kalau capek bilang capek ya..landai nya hanya sedikit...

Evi memimpin perjalanan saya kedua dan di belakang ada Keling dan gondrong..

Tak lama berjalan gondrong mengeluhkan tas nya yang terasa berat dua kali lipat.. seperti memikul beban banyak..jalan nya pun melambat.. langsung terdengar suara anak ayam ....."ciat..ciak..ciat....kurang lebih seperti itu suara nya tidak begitu jelas...

Di sini saya jelaskan (gondron dan keling ini orang asli Bogor).

Mereka hampir sering nanjak ke gunung gede pangrango untuk membawa tamu open trip dan tamu biasa yang ingin mendaki.

Itu sebabnya saya merasa aman mendaki dengan mereka.. selain karena mereka teman saya.. mereka juga penduduk lokal yang terbiasa dengan track gunung gede pangrango.

Friday, September 11, 2020

CERPEN KISAH NYATA TEROR DI GUNUNG PANGRANGO PART 1

Seperti biasa Perkenalkan saya Damar .. dari Bekasi Dan kali ini saya melakukan pendakian Di gunung gede pangrango bersama sahabat saya Furkon imam , sebut aja Ukon ...

‌Pendakian menuju gunung gede pangrango ini terbilang cepat karena hanya butuh planing 4 hari , itu pun dadakan dikarenakan Ukon teman saya sahabat kecil saya mendapatkan libur kerja 3 hari , dan dia ingin sekali naik gunung ... Akhirnya saya berdua mencoba mencari gunung sekitaran Jawa barat yang terbilang dekat Dan bisa di akses melalui motoran ... Sampai kita berdua sepakat untuk melakukan pendakian di gunung Pangrango ya itung-itung flasback waktu 2018 ke gunung gede sepertinya seru.

Akhirnya kami berdua memutuskan untuk mendaki gunung pangrango yaitu 24 Agustus 2020 , sekitar jam 11 malam kami berdua sudah menyiapkan logistik dan alat-alat pendakian tak lupa juga P3K selalu kami bawa karena itu cukup penting ..

Kami berdua pun tancap gas setelah semua sudah siap , tak lupa kami berdoa sebelum tancap gas supaya sampai di Cibodas dengan selamat ... 25 Agustus 2020 tepat di jam 03:30 kami tiba di cibodas dan beristirahat di penginapan mang idi ,... Tak lama kami beristirahat usai melewati dinginnya malam , tiba-tiba salah satu petugas atau seseorang yang sudah janjian dengan kami menjemput kami ..

Orang: mas damar ada ? Ini saya dari mang Barnas untuk menjemput mas damar

Damar: oit iya mang bentar ya saya baru sampai ..

Mang Barnas adalah seseorang yang dibilang pemandu atau guide yang bisa dibilang mendapatkan Kouta untuk pendaki yang ingin masuk ke gunung gede pangrango di cibodas dan mang Barnas ini juga ada penginapan penjualan aksesoris serta kamar mandi untuk pendaki yang ingin istirahat .. 

Akhirnya jam 04:00 saya menuju tempat mang Barnas...

Mang Barnas : mar nanti naik jam 5 pagi yah..

Damar : eh iya mang oke , dalam hati padahal berkata anjirr gua berdua belum tidur mana abis bawa motor disuruh naik jam 5 pagi ,padahal planing mau naik jam 8-9 pagi biar bisa istirahat dulu tidur sebentar biar lebih seger..

Ukon : lu yakin pak ini kita mau naik jam 5 pagi ? Gila belum tidur cuy disuruh naik jam 5 

Damar : yaudahlah yah ikutin aja pak kalau emang udah ngantuk bangat kita tidur ayam aja di setiap pos .

Ukon : yaudah iya gua ikutin lu aja gimana nanti pak ...

Masih ada waktu 1 jam , kami berdua prepare kembali , dan makan di warung sebelah tak lupa kami Ngopi diperbanyak supaya mata bisa lebih dipaksa untuk tidak tertidur ..

Waktu itu gunung gede pangrango masih terbilang tutup belum buka lewat online .. jadi ya kami menggunakan jasa lainnya seperti calo ataupun orang dalam ... Ini bukan termaksud Ilegal ya teman-teman , karena memang mang Barnas atau calo dan orang dalam seperti ini mendapatkan Kouta untuk memasukan para pendaki , dan semua data kita di backup sama mereka , kita juga mendapatkan asuransi dll nya ..

Idih gila nekat bangat ini bawa duit cuma 250rb per orang hahaha... Kalo duit abis ya ngegembel pun jadi ,...

Sampai lah jam 5 pagi , kami berdua mulai pendakian dari basecamp pintu Cibodas , tak lupa kami berdua berdoa supaya terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan , dan kembali ke rumah dengan selamat..

Masih sepi bangat jarang ada pendaki , wah jadi makin seneng kan naik gunung sunyi ,sepi , ga terlalu berisik , ga terlalu banyak ada pendaki yang bawa musik box ,.. beruntung sekali bisa menikmati kesunyiaan alamnya ..

Setelah kami berdua berjalan 1 jam kami tiba di telaga air , katanya sih telaga air ini pusatnya mahkluk ghaib kumpul dan banyak pusaka-pusaka yang terpendam disana , tapi ya kembali lagi .. tujuan kami berdua hanya ingin berpetualang ,naik gunung pangrango , berkunjung ke lembah Mandalawangi tempat favoritnya Soe Hok Gie .

Setelah kami berdua foto-foto di telaga air saya sempat mendapatkan sebuah renungan tentang kehidupan saya , saya kembali berdoa semua apa yang saya ingin raih cepat teraih ,,.. hati berdoa mulut mengucapkan amin , tangan membasuh wajah semoga kebaikan selalu berpihak kepada saya ...

Setelah 30 menit istirahat dan foto-foto kami berdua melanjutkan perjalanan kembali yaitu POS PENANCANGAN atau persimpangan Air TERJUN Cibeureum  , cukup dibutuhkan waktu sekitar 15 menit berjalan dari pos rawa gayonggong .

Dan disini teman saya Ukon lupa akan menjaga adab dan perilaku yang baik , tanpa disadari dia selalu buang ludah dengan nada sombong (Cuiiih ) saya pun yang melihatnya kurang enak bangat apalagi penunggu mahluk sini pasti jelas mereka akan marah .

Sempet saya ingatkan woi pak lu buang ludah jangan begitu anjirrr dilihatnya ga enak bangat pak , kalau bisa telan aja ludah bisa lebih bagus untuk mengurangi dehidrasi , kalau emang mau kuda sebisa mungkin jangan sampai ada nada cuihnya , cukup begini aja nih gua contohin , buka mulut arahkan kepala kebawah jatuhin ludahnya plekkk jatuh tuh ludah abis itu injek sampai hilang ,...

Ukon yang tak terima saya ingatkan dan saya nasehatin sambila bercanda bilang , udahlah pak gpp yaelah ludah gua ini lagian lu sibuk bangat hal kecil aja di kritik ...

Dalam hati gua hmm ini anak pasti nanti kena batu nya neh , yaudah lah semoga aja gak fatal sekedar peringatan dan memberi efek kerah supaya temen saya ada sedikit perubahan dan belajar dari kesalahan ..

Sepanjang perjalanan kami berdua sambil bercanda ga jelas , cukup lama sekali akhirnya tiba di POS KANDANG BADAK . Ya kandang badak adalah pos yang saya tunggu-tunggu untuk mendirikan tenda , masak-masak , istirahat . Total 7-8 jam dari basecamp kami tiba di POS KANDANG BADAK, dengan kondisi badan yang belum tidur sama sekali ( abis begadang ) .

Bersambung....

Thursday, September 10, 2020

Cerpen Misteri Dokter Hantu Part 2


Sambil menggerutu saya berlalu meninggalkan ruangan tempat istri saya melahirkan, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 21.10 dan tak terasa cacing yang ada diperut saya mulai berteriak teriak pertanda waktunya untuk minta jatah makan.

Sambil pikiran cemas saya menoleh kanan kiri mencari warung disekitar rumah sakit tersebut, ternyata ada salah satu warung kecil dipinggir trotoar yang masih buka, jaraknya pun tak begitu jauh dari rumah sakit kurang lebih sekitar 100 meteran.

"kopi pak..." ucapku tegas
"ya mas..." ucap si penjual

Tak berapa lama kopi pun sudah terhidang dihadapanku, sambil menunggu proses persalinan istriku, saya ambil gorengan yang sudah tersaji dimeja penjual. Sambil mengisi kesepian akhirnya saya memulai pembicaraan dengan si penjual.

"sudah lama pak jualan disini?" ucapku
"ya sudah hampir 10 tahun mas..." jawab penjual

Aku : sudah lama juga ya pak.

Penjual : "iya mas... Kan rumahku disini juga, masuk gang itu." (Sambil menunjuk gang kecil disamping rumah sakit). Memangnya mase disini lagi ngapain?

Aku : saya lagi mengantar istri lahiran

Penjual : ohh... (sambil berpikir heran)

Aku : kok penjualnya sepi ya pak, biasanya kalau didekat rumah sakit gini penjualnya banyak dan sampai malam, apa karena malam jum'at?

Penjual : ya karena semenjak rumah sakit dipindah, otomatis penjual banyak yang ikut pindah ke sana...

Aku : deg!!!!! Maksudya pindah gimana pak?

Penjual : ya kan sekarang rumah sakit disini sudah tidak digunakan lagi, semua pasien sudah dipindah ke rumah sakit dekat alun alun sana. Makanya disini sepi.

Aku : "lha terus dokter yang menangani persalinan istri saya tadi siapa??" Wajah kaget bercampur khawatir menyelimutiku

Tanpa berkata lagi saya menyodorkan uang 5000 dimeja warung lalu saya berlari kerumah sakit. Benar saja, rumah sakit yang semula tadi terang benerang sekarang gelap gulita tanpa lampu penerangan satu pun, dengan perasaan khawatir bercampur takut, saya memberanikan diri menyisiri satu persatu ruangan rumah sakit.

Hampir 1 jam lebih saya belum menemukan ruangan tempat istri saya melahirkan, mungkin

Wednesday, September 9, 2020

CERPEN Cerita Misteri Santet Part 5

Aku terpaku melihat tingkah laku Paman. Mulutku menganga lebar menyaksikan semua yang terjadi, untunglah segera menutup mulut. Jika tidak, tentu sudah kemasukan nyamuk yang sedari tadi tersenyum dan dengan genitnya menghisap darahku.

Seketika aku teringat pesan sesepuh untuk menanggalkan busana. Tak apalah, yang penting aku bisa menyaksikan langsung. Biarlah hanya Tuhan dan nyamuk yang mengetahuinya.

Satu persatu Paman melepas pakaiannya, tentu saja dengan clingak clinguk terlebih dahulu. Kemudian dia menuju pohon kates rambey (sejenis pepaya yang hanya berbunga saja).

Sejurus kemudian, dia mulai menginjak apa yang ia bawa sebelumnya. Mulutnya komat-kamit entah mantra apa yang ia baca.

Dengan tangan yang mengarah ke atas, ia seakan menikmati sinar bulan purnama. Sungguh ini adalah pemandangan yang sangat menjijikkan.

Hampir saja aku tak sadarkan diri karenanya, untunglah masih bisa menahannya.

Dia kemudian berjalan ke arah musholla yang kebetulan berada tak jauh dari rumah. Masih terlihat jelas ia berjalan ke ruangan samping, dimana terdapat keranda mayat.

Tubuh itu masuk dan tidur di dalamnya. Bruukk... pintu musholla kemudian tertutup dengan sendirinya.

Merasa sudah aman, aku bergegas keluar dari persembunyian. Dengan mengendap-ngendap, ku langkahkan kaki menuju dapur.

"Darimana kamu, Nak?" tanya sosok yang sudah duduk di bibir ranjang kayu.
"Itu..Lila habis mengecek keadaan rumah, tadi kayaknya ada orang lewat,"ucapku sambil mencoba mencari alasan.
"Ya sudah, lain kali bangunin ibu ya. Nggak baik cewek keluar malam gini," jawab ibuku.

Lega rasanya ibu tak menanyakan hal lainnya. Segera aku menuju kamar dan tak hentinya memikirkan tentang kelakuan paman tadi.

Tak sabar rasanya menunggu pagi dan menuju rumah sesepuh. Akan ku ceritakan semuanya nanti.

***
Aku tersenyum lega sekembalinya dari rumah sesepuh. Beliau berjanji akan menuntaskan masalah ini.

Belum sampai rumah, terlihat warga sudah mengelilingi rumah paman. Mereka sudah membawa mercon atau petasan, sebab clurit dan sejenisnya tak mampu menembus kulit paman.

Duar...duar, terdengar suara mercon yang bersahutan. Anak-anak serta bibi lari terbirit-birit memecah kerumunan.

Segera aku menghampiri mereka dan menyuruh berlindung ke rumahku. Hanya Paman yang masih belum terlihat batang hidungnya.

Kemarahan warga sudah mulai memuncak. Berulang-kali mereka berteriak memanggil paman untuk segera keluar rumah.

Tak lama kemudian, paman keluar rumah dengan tubuh yang penuh dengan darah. Bibi yang sedari tadi mengintip, berlari lagi menghampiri paman.

"Maafkan suamiku pak, kami berjanji tak akan mengulanginya lagi," ucap Bibi sambil terus memeluk Paman.
"Ok, kami maafkan asal jangan sampai mengulanginya lagi," ucap salah satu dari mereka.

Satu persatu warga mulai membubarkan diri. Aku memang sangat benci paman, tapi disatu sisi tak tega rasanya melihat tubuhnya yang bersimbah darah.

Kami segera membawa paman menuju puskesmas terdekat. Untunglah nyawanya masih bisa tertolong.

***
Setahun sudah sejak kejadian itu, Paman nampaknya tak menggunakan ilmunya lagi. Perlahan ibu kondisinya makin membaik.

Warga juga mulai tenang, tak ada lagi terdengar isu orang sakit dan meninggal tidak wajar.

Namun dugaanku salah, Paman kembali berulah. Sasarannya bukan warga sekitar, melainkan keluarga sendiri.

Bibi mulai sakit-sakitan, hampir setiap hari ia berteriak karena tak tahan dengan penyakitnya.

Kini ia tinggal kulit membungkus tulang dengan perut besar. Tampak urat-urat biru di bagian perut, layaknya balon yang siap meletus.

Cerpen Misteri Dokter Hantu Part 1

Usia pernikahan kami sudah menginjak kurang lebih 3 tahun, tepatnya di tahun 2000 ini adalah tahun yang bagi saya adalah tahun istimewa, karena ditahun ini anak pertama yang saya idam idamkan selama ini akan lahir kedunia dan sekaligus saya akan menjadi seorang ayah. Sebut saja namaku Slamet, aku adalah laki laki yang tanggung jawab dimata istriku, karena selama hamil yang mencuci baju adalah saya sendiri.

Karena kami tinggal didesa maka pekerjaan kami hanya seorang petani yang menggarap beberapa sawah sebagai mata pencaharian kami, rutinitas seperti biasanya pagi dan sore saya pergi ke sawah.

Suatu ketika saya pulang dari sawah sekitar jam 4 sore, saya mendengar suara yang agak aneh dari kejauhan.

"aduuuhhhh... Aduuuhhh... Mass... Tolong...

Tanpa pikir panjang lebar saya berlari mendekati suara yang ada didalam rumah dengan pikiran (pasti istrinya mau melahirkan). Ternyata benar, istri saya sudah tidak mampu berdiri dengan tangan memegang kaki meja, mungkin inginya mau berdiri.

"Kamu kuat dek kalau saya bonceng ke rumah sakit kota?" ucapku sambil panik

"iya mas, insyaAllah saya kuat" ucap istri saya

Langsung saja aku keluarkan motor tua yang menjadi sejarah waktu pacaran dulu.

Singkat cerita, saya sampai dikota sudah adzan isyak, maklum lah, dari desa tempat tinggalku lumayan  jauh. Ditambah lagi sekarang saya bingung dimana tempat rumah sakitnya berada, karena sudah lama sekali saya tidak pernah kekota, semenjak pacaran dulu baru kali ini saya menginjak kota lagi, sudah banyak yang berubah. 

Hampir 1 jam lebih muter miter akhirnya ketemu juga rumah sakitnya, saya pun langsung menuju halaman rumah sakit itu dengan sedikit panik sambil berteriak teriak, "sus...tolong sus.." Ucapku

Tanpa basa basi 2 suster yang berwajah sinis langsung membawa istriku kedalam rumah sakit dengan menaikan ranjang roda, saya pun tak ketinggalan membuntuti 2 suster tadi sambil berlari kecil.

"Ginama sus, kondisi istri saya.." ucapku sambil lari lari kecil yang berada dibelakang mereka

Beberapa kali ucapanku berlalu tanpa ada jawaban sepatah kata pun dari 2 suster tersebut, ya mungkin memang suster ini judes "pikirku saat melihat pertama tadi"

Akhirnya sampai juga disebuah ruangan yang dipintunya sudah ada seorang dokter yang menyambut.

"Mohon bapak tunggu diluar saja" ucap dokter sambil menepuk pundak saya

Langsung saja pintu ditutup dan saya pun sudah tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi diruangan tersebut. Ya meskipun dalam hati sebenarnya saya tidak tega meninggalkan istri saya dalam kondisi seperti ini, namun apa boleh buat

Bersambung...

Monday, September 7, 2020

CERPEN Cerita Misteri Santet Part 3

Sakit hati bercampur kecewa menjadi satu. Hingga kini aku belum menemukan dalang atas sakitnya Ayah. Bahkan rasa pesimis juga muncul, sebab apapun pengobatan yang ditempuh selalu menambah sakitnya Ayah.

Pengobatan orang Kalimantan kemarin memang sangat manjur, namun sepeninggalnya orang itu malah Ayah sakit lagi. 

Ibu sepertinya sudah ikhlas jika Ayah meninggalkannya. Raut mukanya pun tidak menandakan kesedihan. Dia hanya bekerja dan bekerja saja.

Kini seluruh warisan Ayah sudah benar-benar habis tak tersisa. Sapi 7 ekor serta ladangpun sudah habis terjual. Bersamaan dengan itu, Ayah semakin parah sakitnya dan kecil kemungkinan untuk sembuh.

Jam 7 pagi Ayah menghembuskan napas terakhirnya. Duniaku seakan hancur, namun aku mencoba mengikhlaskannya. Sudah cukup selama ini dia menderita, mungkin ini sudah jalan takdirnya.

Dengan jasad yang mengeluarkan air mata, ku pandangi Ayah untuk terakhir kalinya. Tak dapat lagi aku menopang tubuhku hingga ambruk dan tak sadarkan diri.

Setelah siuman, Ibu merangkulku erat seraya menguatkan ku untuk turut serta memandikan jasad Ayah. Dengan terus menahan sesaknya dada, aku mensucikan Ayah untuk terakhir kalinya.

Hal yang berada di luar nalar pun terjadi.  Saat perut Ayah ditekan untuk mengeluarkan kotoran, keluarlah cairan hitam yang sangat busuk. Beberapa orang yang memandikan juga terpaksa menutup hidung. Untunglah yang memandikan hanya kerabat dekat saja dan orang-orang yang bisa dipercaya.

Langkah ini terasa berat ketika mengantarkan Ayah ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jenazah selesai dikebumikan pun aku baru bisa sampai.

***
Sudah sebulan kepergian Ayah, namun belum juga aku menemukan bukti tentang Paman. Mungkin aku harus mencoba mengikhlaskan, toh Ayah sudah tidak bisa hidup kembali.

Tiba-tiba banyak orang berteriak seakan sedang terjadi demo. Aku bergegas membuka pintu untuk memastikannya.

Rupanya banyak warga sedang membawa pentungan serta ibu-ibu yang berteriak histeris. Bahkan ada salah satu diantara mereka siap membakar rumah Paman.

Mereka semua meneriaki paman untuk segera keluar rumah. Bahkan aku terperanjat ketika mereka menyebut Paman adalah pelaku santet.

Untunglah Pak RT datang tepat waktu menenangkan warga. Paman kali ini selamat sebab mereka tak mempunyai bukti apapun untuk menjeratnya.

"Sena, kali ini kami memang tak mempunyai bukti kuat tapi jika sampai istri ku nggak sembuh awas saja!" teriak salah satu warga.
"Kalau kamu masih berulah, kami tak segan-segan mencincangmu!," ucap warga yang lain.

Dadaku naik turun, mencoba mengatur napas agar bisa setenang mungkin. Berarti benar dugaanku selama ini, Pamanlah pelakunya.

Aku ingin menghampirinya untuk menanyakan kebenaran semua ini. Namun ku urungkan niat, sebab sudah berjanji sama ibu kalau tak akan ribut dengan paman lagi.

Warga kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan kecewa. Bahkan ada yang tak hentinya "ngedumel".

Aku sangat yakin, kebenaran pasti akan terungkap dengan sendirinya. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti kan tercium saja.

Entahlah kenapa warga bisa langsung menuduh seperti itu. Namun aku semakin yakin jika Pamanlah pembunuh Ayah. Mungkin besok aku akan memulai penyelidikan.

***Bersambung ya...